Logo loader

Menyesap Jejak Sultan di Tengah Sengitnya War Takjil: Dua Wajah Ramadan di Pasar Lama Kota Serang

SERANGKOTA.GO.ID - Matahari Kota Serang nyaris tak pernah berkompromi. Saat jarum jam menunjuk tepat di angka dua belas siang, suhu udara bisa dengan mudah merangsek naik menyentuh 34 derajat Celcius. 

Aspal di sepanjang Jalan Maulana Hasanudin, Kelurahan Kotabaru, tepatnya di Pasar Lama seolah menguapkan fatamorgana tipis yang menari-nari di atas permukaannya. 

Di jam-jam ini, bagi sebagian besar orang yang tengah menjalankan ibadah puasa, berlindung di balik sejuknya dinding beton atau berteduh di bawah rindangnya pohon adalah sebuah kemewahan yang logis.

Namun, kemewahan itu tak berlaku bagi ratusan nyawa yang menggantungkan asa pada denyut nadi ekonomi bulan suci. 

Jauh sebelum hiruk-pikuk klakson kendaraan sore hari memenuhi udara, jauh sebelum aroma manis karamel gula aren mengalahkan debu jalanan, sebuah perjuangan sunyi telah dimulai di trotoar Pasar Lama Kota Serang. 

Perjuangan Sunyi di Bawah Tendon Batik

Pasar Lama menyimpan narasi tentang etos kerja yang luar biasa keras, yang kerap luput dari pandangan para pemburu takjil sore hari. 

Tepat ketika matahari berada di titik kulminasinya, trotoar yang tadinya lengang mulai diinvasi oleh rangka besi dan kayu.

Di salah satu sudut lapak yang baru berdiri, seorang ibu paruh baya tampak sibuk. 

Gurat kelelahan samar terlihat di wajahnya yang berbalut kerudung sederhana, namun tangannya yang cekatan tak berhenti bekerja. 

Mengenakan baju bermotif batik cokelat, ia dengan telaten membungkus satu per satu dagangannya lontong dan penganan tradisional menggunakan daun pisang dan kertas cokelat.

Peluh yang menganak sungai di dahinya tak ia hiraukan. Fokusnya hanya satu memastikan ratusan bungkus makanan siap sebelum gelombang manusia datang menyerbu. 

Di depannya, seorang pengendara motor yang bahkan belum melepas helmnya sudah setia menunggu bungkusan itu selesai diracik.

Geliat ekonomi bergerak begitu organik. Ibu-ibu rumah tangga yang mendadak menjadi koki andalan, pemuda yang ikut mengatur kantong parkir, hingga pedagang sepuh, semuanya memancarkan optimisme yang sama.

"Ayo Neng, es buahnya biar segar puasanya," celoteh seorang pedagang. 

"Gorengan panas, Mang, baru diangkat!" Seruan para pedagang ini bersahut-sahutan dengan suara klakson motor yang merayap pelan, menciptakan melodi khas sore hari.

Pemandangan ini adalah mikrokosmos dari perjuangan ratusan pedagang di Pasar Lama yang menantang terik siang demi rezeki Ramadan.

Ketan Bintul: Napak Tilas Sajian Favorit Sultan Banten

Ketekunan sang ibu dan ratusan pedagang lainnya bukan sekadar urusan niaga. 

Sadar atau tidak, mereka sedang merawat sebuah warisan sejarah yang sangat lekat dengan spirit Ramadan di Tanah Jawara.

Di Kota Serang, Ramadan tak akan pernah terasa paripurna tanpa kehadiran Ketan Bintul di meja berbuka. 

Kudapan ini bukan sekadar pengganjal perut biasa. Dalam lembar sejarah dan tutur lisan masyarakat Banten.

Ketan Bintul diyakini sebagai klangenan atau sajian favorit Sultan Maulana Hasanuddin sosok yang namanya kini diabadikan menjadi nama jalan tempat para pedagang ini mengadu nasib.

Konon, pada masa kejayaan Kesultanan Banten di abad ke-16, sang Sultan kerap menyantap ketan bertabur serundeng daging sapi pedas gurih ini saat berbuka, sebelum melanjutkan ibadah malam.

Maka, ketika warga Serang berbondong-bondong memburu Ketan Bintul setiap sore, mereka sejatinya sedang melakukan sebuah napak tilas sejarah. 

Aroma rempah serundeng yang menguar di udara Pasar Lama seolah menjadi mesin waktu yang membawa ingatan warga kembali pada kejayaan Banten Lama.

Pukul Empat Sore: Genderang War Takjil Ditabuh

Napas sejarah itu berpadu sempurna dengan dinamika masa kini ketika waktu merangkak menuju pukul empat sore. 

Sengatan matahari akhirnya berangsur jinak. Di momen inilah, atmosfer Pasar Lama berubah 180 derajat.

Lorong panjang di bawah deretan tenda putih kerucut berlogo DinkopUKMPerindag Pemerintah Kota Serang kini siap menyambut lautan manusia. 

Mobil, angkot, dan ribuan sepeda motor memperlambat lajunya, menciptakan simpul kemacetan yang entah mengapa justru dinikmati.

Dari berbagai penjuru Serang, warga tumpah ruah di satu titik. Genderang War Takjil resmi ditabuh.

Memasuki kawasan ini layaknya terjun ke dalam medan pertempuran yang padat namun penuh sukacita. 

Bukan hanya orang dewasa, keluarga muda pun turut serta menjadikan momen ini sebagai rekreasi sore.

Terlihat seorang ayah muda menggendong balitanya, berjalan santai menembus kerumunan di samping sang istri, menikmati keriuhan pasar sebagai hiburan tersendiri.

Keriuhan War Takjil ini adalah hiburan komunal. Wajah-wajah antusias tidak hanya milik mereka yang berpuasa. 

Warga non Muslim pun kerap turun gelanggang, ikut meramaikan perburuan dengan semangat yang tak kalah besar.

Di tengah himpitan kerumunan, transaksi sering kali melampaui urusan uang dan barang. 

Ada tawar-menawar bernada guyon antara pembeli dan penjual, sapaan akrab antartetangga yang tak sengaja bersua di depan lapak es buah, atau sekadar obrolan ringan sesama pembeli saat menunggu pesanan martabak matang. 

Setiap orang seolah memiliki radar dan strategi. Lengah sedikit saja, antrean panjang sudah mengular di depan lapak Ketan Bintul, primadona takjil khas Banten yang gurihnya selalu diidamkan. 

Terlambat sepuluh menit, kue Jojorong yang lembut bisa ludes tak bersisa.

Palet Rasa: Dari Tradisi Hingga Solusi Praktis

Pasar Lama adalah etalase raksasa yang menawarkan segala kebutuhan berbuka. 

Antrean paling mengular, tentu saja, berada di lapak-lapak penjual Ketan Bintul, Apem Putih Cimanuk, dan kue Jojorong tiga serangkai takjil warisan nenek moyang.

Namun, pasar ini juga menawarkan solusi praktis bagi warga kota yang dikejar waktu. 

Di atas tampah-tampah bambu beralaskan koran, tersaji puluhan bungkusan plastik bening berisi rupa-rupa lauk pauk dan sayur matang siap santap.

Bagi ibu bekerja yang tak sempat memasak, lapak-lapak ini adalah penyelamat. 

Tak jauh dari sana, kesegaran buah potong seperti mangga dan melon yang ditata apik menawarkan alternatif pelepas dahaga yang lebih sehat.

Salah satu pedagang ketan bintul Santi menuturkan dirinya sudah menjajakan jualan sejak pukul 14.00 WIB.

"Lumayan mas buat jajan, hari hari mah gak jualan, cuma pas bulan ramadan saja," kisahnya yang berjualan ketan bintul. 

Transisi Magis: Penutup Manis di Ujung Senja

Jarum jam bergerak melewati pukul setengah enam sore. Warna langit perlahan memudar dari jingga terang menjadi biru gelap. Kantong-kantong plastik penuh makanan telah berpindah tangan secara paripurna.

Hingga akhirnya, momen magis itu tiba. Sayup-sayup kumandang azan Maghrib mengalun merdu dari pelantang suara masjid-masjid di sekitar Kelurahan Kotabaru.

Seketika, riuh rendah pertempuran War Takjil yang membakar energi selama dua jam terakhir menguap, berganti dengan keheningan komunal yang sangat syahdu. Lalu lalang manusia sejenak terhenti.

Di balik meja lapaknya yang mulai lengang, ibu berbaju batik tadi akhirnya bisa duduk. 

Tangannya yang sedari siang tak berhenti membungkus makanan, perlahan memegang gelas plastik berisi air putih hangat untuk membatalkan puasa.

Tidak ada kemewahan dalam menu berbukanya. Namun, senyum lega yang merekah di wajahnya menyiratkan rasa syukur yang tak terhingga. 

Kelelahan yang ditumpuk sejak pukul dua belas siang di bawah terik matahari Serang, lunas seketika oleh dagangan yang nyaris tandas.

Pada akhirnya, di Pasar Lama Kota Serang, Ramadan tak pernah sekadar bercerita tentang menahan lapar.

Ia adalah sebuah simfoni utuh yang merangkum laku spiritual para pahlawan keluarga, jembatan sejarah warisan sang Sultan, dan hangatnya kebersamaan warga yang terus merawat denyut kehidupan kota ini dari masa ke masa.

Di Pasar Lama Kota Serang, geliat Ramadan selalu berhasil merangkum segalanya yakni sengitnya tradisi ngabuburit, putaran roda ekonomi wong cilik, hingga hangatnya kebersamaan yang membingkai indahnya bulan suci Ramadan.

Copyright © Serang Smart Service 2025 - 2030. All rights reserved.