Peduli Rohingya UIN SMH Banten dan Pemkot Serang adakan Istigatsah

Peduli Rohingya UIN SMH Banten dan Pemkot Serang adakan Istigatsah

Peduli Rohingya UIN SMH Banten dan Pemkot Serang adakan Istigatsah

      Flashback tentang Sejarah Kelam Muslim Rohingya, Sejak “Tragedi Rakhine” 2012, berita soal Rohingya, mendominasi media internasional. Banyak orang mulai kenal “Muslim Rohingya”. Saat itu, serangkaian kerusuhan komunal antara sejumlah kelompok Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya meletus dimana-mana di seantero negara bagian Rakhine di Myanmar yang dulu, di masa klasik, bernama Kerajaan Arakan. Rohingya sendiri adalah warga "pribumi” (native) Arakan, dan karena itu mereka sering disebut "Muslim Arakan” atau "India Arakan”. Tetapi eksistensi Rohingya ditolak di Myanmar sehingga menyebabkan mereka menjadi salah satu kelompok etnis yang tidak memiliki negara (katakanlah, "bangsa tanpa negara”). Kerusuhan antar-kedua kelompok agama itu semakin memburuk, sejak pemerintah mendeklarasikan status darurat atas Rakhine sehingga melegalkan intervensi militer (disebut Tatmadaw) dalam "menangani” kerusuhan komunal berdimensi agama itu. Celakanya, militer dan polisi yang berasal dari kelompok etnis mayoritas di Myanmar (terutama Bamar, Mon, dan Rakhine sendiri) bukannya "mengatasi masalah” dengan menciptakan ruang-ruang atau "titik temu” kedua kelompok untuk berdialog dan mengakhiri pertikaian, melainkan justru semakin memperuncing dan memperburuk situasi lantaran mereka juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. "Tragedi Rakhine 2012” ini yang kemudian berlanjut di tahun-tahun berikutnya, termasuk serangkaian aksi kekerasan Buddha–Muslim belakangan ini, telah menyebabkan ribuan orang tewas, ratusan ribu warga mengungsi, ribuan rumah hangus terbakar, dan tak terhitung lagi berapa nilai properti yang hancur-lebur berantakan dimusnahkan oleh massa yang sedang emosi, marah dan kalap.

   

 Tahun 2015 menjadi "puncak penderitaan” bagi warga Rohingya ketika Presiden Thein Sein, karena mendapat tekanan dari kelompok nasionalis-ekstrimis Buddha Burma 969, mendeklarasikan bahwa kartu identitas Rohingya tidak berlaku dan menganggap Rohingya sebagai "orang Bengali” (Bangladesh). Asal-usul atau "nenek moyang” Rohingya yang diyakini dari Bangladesh itu kemudian jadi perdebatan dan karena itu dijadikan sebagai alasan oleh berbagai kelompok militan-nasionalis, baik yang berbasis agama Buddha (seperti kelompok MaBaTha), etnis (Bamar dan lainnya), militer (Tatmadaw), faksi politik  (Arakan Nationalist Party, United League of Arakan, Arakan Liberation Part, dlsb), untuk mendelegitimasi Rohingya. Berbagai kelompok ini menganggap Rohingya sebagai kelompok etnis berbahaya yang bisa mengancam eksistensi Myanmar dan umat Buddha.

     Dalam kesempatan acara Istigatsah dan Doa Bersama untuk Rohingya ini walikota Serang menyampaikan agar menyisihkan rezeki kita untuk berbagi dan mengurangi beban warga rohingya disana dan berdoa agar warga rohingya dapat hidup layak dan lebih baik. Istigatsah,  doa bersama, dan Sholat Gaib ini dipimpin oleh DR. Wawan Wahyudin.

     Walikota Serang H. Tb. Haerul Jaman secara pribadi memberi bantuan sebesar 5 (Lima) Juta, Wakil Walikota H. Sulhi 2 (dua) Juta, UIN SMH Banten memberi pula Bantuan 5 (lima) Juta, Dispora 5 (lima) Ratus Ribu, keseluruhan dana  yang terkumpul dari berbagai pihak yang peduli acara ini mencapai lebih dari 40 Juta. Mahasiswa UIN SMH Banten ikut berpartisipasi mengumpulkan pakaian layak pakai sejumlah 7 (tujuh) karung.