Logo loader

Berjalan Kaki 23 Jam Kabur dari Siksaan di Kamboja, Pemuda Asal Kota Serang Akhirnya Pulang Dibantu Wali Kota

SERANGKOTA.GO.ID – Pelukan erat dan isak tangis kelegaan mewarnai pertemuan antara Repelitawati dengan putra tercintanya, Caderra Pasqy Naiga Prasasty.

Setelah berbulan-bulan diselimuti ketakutan, ibu tunggal asal Kota Serang ini akhirnya bisa kembali menatap wajah putranya yang berhasil selamat dari mimpi buruk sebagai korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja.

Di balik keselamatannya hari ini, terdapat kisah pelarian bertaruh nyawa sejauh ratusan kilometer, doa seorang ibu yang tak pernah putus, dan uluran tangan tak terduga dari Pemerintah Kota (Pemkot) Serang.

Kisah pilu ini bermula dari keputusasaan Caderra mencari pekerjaan yang layak.

Niat hati merantau untuk mengubah nasib keluarga, pemuda ini justru termakan janji manis sebuah agensi yang menawarinya posisi di sebuah rumah makan di Vietnam.

Berbekal tiket dan akomodasi yang dibiayai penuh oleh sindikat, Caderra diberangkatkan.

Ia sempat diuruskan paspor di Batam, diselundupkan lewat jalur VIP Imigrasi menuju Malaysia, hingga diterbangkan ke Ho Chi Minh.

Namun, Vietnam bukanlah tujuan akhir. Ia dan puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) lainnya dinaikkan ke dalam bus selama 18 jam hingga melintasi perbatasan Kamboja.

"Pas kita pada bangun tidur udah nyampe di Kamboja. Udah dikurung di perusahaan scam," ungkap Caderra lirih.

Di sanalah penderitaan dimulai. Selama delapan bulan, Caderra disekap di wilayah Prey Veng.

Alih-alih bekerja di rumah makan, ia dipaksa menjadi penipu daring (scammer) dengan target korban di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Gaji yang dijanjikan hanyalah isapan jempol; ia hanya menerima 100 Dolar AS di awal masuk.

Lebih menyayat hati, ia diperlakukan layaknya barang dagangan.

"Selebihnya disiksa. Karena dia (saya) dijual juga ke perusahaan lain senilai 3.500 Dolar AS," kenangnya dengan tatapan nanar.

Jika tak mencapai target penipuan, setruman dan siksaan fisik menjadi makanan sehari-hari.

Tak sudi mati sia-sia di negeri orang, Caderra bersama 22 WNI lainnya mengumpulkan sisa keberanian.

Mereka nekat menerobos keluar dari perusahaan penyekap tersebut dan berjalan kaki sejauh 125 kilometer menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh.

"Keluar dari perusahaan di Prey Veng itu ke KBRI 125 kilo kita jalan semua. 23 jam jalan. Full. Dari malam ketemu malam lagi," cerita Caderra.

Ketakutan akan ditangkap kembali menjadi satu-satunya bahan bakar mereka untuk terus melangkah.

"Soalnya kalau nggak dikabur, kita disetrum lagi."

Berhasil mencapai KBRI tak lantas menyelesaikan masalah.

Mendengar anaknya berada di penampungan dengan denda overstay yang menumpuk, Repelitawati kebingungan.

Sebagai ibu tunggal, ia tak memiliki uang Rp8 juta untuk membeli tiket pesawat sang anak.

Di tengah keputusasaan itu, ia mengadu ke jajaran Pemkot Serang.

Laporan ibu yang menangis ini menggerakkan hati Wali Kota Serang, Budi Rustandi.

Mendengar warganya tersiksa di luar negeri pada momen menjelang Lebaran, Budi tak menunggu birokrasi anggaran cair.

Ia langsung merogoh kocek pribadinya.

"Kita nggak ada biaya dari negara, langsung alhamdulillah saya pakai anggaran pribadi segera diurus. Saya terharu karena bahagia anak ini sudah kembali ke Kota Serang," ucap Budi Rustandi penuh empati.

Pihak KBRI pun turut membantu dengan memutihkan denda overstay yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.

Tindakan ini dibalas dengan air mata syukur oleh Repelitawati.

"Alhamdulillahnya atas bantuan Pak Walikota, bantuan Pak Wakil Walikota, Bapak Kabag Kesra, dan semua jajarannya, aku ngucapin banyak terima kasih. Kalau bukan bapak kita, siapa lagi yang memperhatikan anak-anak kami," tuturnya terbata-bata.

Kisah Caderra menjadi tamparan keras mengenai pahitnya realitas pengangguran.

Wali Kota Budi Rustandi menegaskan bahwa tragedi ini adalah cambuk bagi pemerintah untuk segera membuka pintu investasi seluas-luasnya, agar tak ada lagi “Caderra” lain yang harus mempertaruhkan nyawa di luar negeri.

Kini, air mata penderitaan itu telah berganti menjadi air mata harapan.

Melalui Staf Ahli Wali Kota, Triningsih, Pemkot Serang memastikan Caderra tidak akan dibiarkan luntang-lantung.

"Ya kita dari Pemerintah Kota Serang memfasilitasi dia bisa bekerja sambil menunggu yang ada pembangunan di Serang," tutup Triningsih, memberikan lembaran baru bagi pemuda yang telah kembali ke pelukan ibunya tersebut.***

 

Copyright © Serang Smart Service 2025 - 2030. All rights reserved.