Serang Mengaji Capai 95,7 Persen, Wali Kota Targetkan Tuntas 100 Persen dalam Tiga Bulan
SERANGKOTA.GO.ID,- Pemerintah Kota Serang terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan melalui program unggulan Serang Mengaji.
Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Serang, Budi Rustandi, saat menghadiri kegiatan Serang Mengaji di salah satu sekolah, yang dirangkaikan dengan silaturahmi, halal bihalal, dan tadarus.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari evaluasi capaian Satuan Tugas (Satgas) Serang Mengaji dalam memastikan seluruh siswa memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an.
“Alhamdulillah, berdasarkan data saat ini, capaian program sudah mencapai 95,7 persen. Yang sebelumnya masih banyak anak yang belum bisa mengaji, sekarang tinggal sekitar 3 sampai 4 persen lagi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa target Pemerintah Kota Serang adalah menuntaskan sisa capaian tersebut hingga 100 persen dalam waktu dekat.
Salah satu contoh progres terlihat di SMP Negeri 6, di mana saat ini hanya tersisa lima siswa yang masih dalam proses pembelajaran.
“Insya Allah dalam waktu tiga bulan ke depan bisa selesai, sehingga 100 persen anak-anak kita bisa mengaji,” tambahnya.
Program Serang Mengaji tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga bertujuan membentuk akhlak, budi pekerti, serta meningkatkan ketakwaan generasi muda.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Serang dengan para ulama yang tergabung dalam Satgas Serang Mengaji.
Sementara itu, Ketua Satgas Serang Mengaji, Enting Abdul Karim, menjelaskan bahwa program ini telah menunjukkan perkembangan signifikan sejak awal pelaksanaannya.
“Dari total 6.684 siswa kelas 3 dan kelas 9, awalnya terdapat 1.691 siswa yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Saat ini, jumlah tersebut telah berkurang menjadi 333 siswa di seluruh Kota Serang,” jelasnya.
Menurutnya, masih adanya siswa yang belum mampu membaca Al-Qur’an bukan semata-mata disebabkan oleh faktor program, melainkan juga dipengaruhi oleh perbedaan kemampuan individu dalam menyerap pembelajaran.
“Setiap anak memiliki daya tangkap yang berbeda. Oleh karena itu, ke depan kami akan memaksimalkan metode pembelajaran yang lebih efektif serta meningkatkan pendampingan,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga mengajak berbagai elemen masyarakat, termasuk relawan dan mahasiswa, untuk turut berpartisipasi dalam percepatan pengentasan buta aksara Al-Qur’an. Ia juga mengungkapkan dampak positif dari program ini terhadap perilaku siswa.
Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, fenomena “perang sarung” yang kerap terjadi pada malam hari di bulan Ramadan kini sudah tidak ditemukan.
“Ini menunjukkan bahwa program Serang Mengaji tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga berdampak pada pembentukan akhlak dan mental siswa,” tambahnya.
Ke depan, setelah target seluruh siswa mampu membaca Al-Qur’an tercapai, program ini akan dilanjutkan pada tahap penguatan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
